October 25, 2021

Politisi PDIP: Tantangan Pak Prabowo Cari Cawapres yang Bisa Dongkrak Elektabilitasnya 

Politikus PDI Perjuangan (PDIP) Andreas Hugo Pareira mengatakan tantangan bagi Prabowo Subianto di Pilpres 2024 mendatang adalah mencari sosok cawapres yang dapat mendongkrak elektabilitasnya. Hal itu disampaikan menanggapi hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) di mana Prabowo Subianto adalah capres yang paling tinggi elektabilitasnya. "Saya yakin bahwa faktor calon cawapres akan ikut mendongkrak elektabilitas. Sehingga tantangan buat beliau (Prabowo) bagaimana mencari cawapres yang potensial untuk mendongkrak elektabilitasnya dan juga tentu beliau juga harus mengupgrade model kampanye agar elektabilitas lebih tinggi," ujar Andreas, dalam paparan Survei Opini Publik Nasional SMRC, 'Partai Politik dan Calon Presiden: Sikap Pemilih Pasca 2 Tahun Pemilu 2019', Minggu (13/6/2021).

Andreas yang merupakan anggota Komisi X DPR RI mengaku tak heran jika Prabowo menempati posisi teratas terkait elektabilitas sebagai capres. Menurutnya nama Ketua Umum Partai Gerindra itu sudah sangat dikenal publik karena sudah berulangkali ikut dalam pemilihan presiden. "Tidak mengherankan kalau nama beliau (Prabowo) sangat dikenal di publik.

Kalau 98 persen publik mengenal beliau, bukan hanya karena Menhan, tetapi sudah bertahun tahun terjun dalam proses kandidasi (Pilpres) ini," jelasnya. Andreas menilai tiket untuk menjadi capres 2024 sebenarnya sudah terbuka lapang dan tergolong mudah bagi Prabowo. Hanya saja, kata dia, itu tergantung dari keinginan Menteri Pertahanan tersebut apakah akan turut serta dalam kontestasi pemilihan presiden atau tidak.

"Sehingga tiket ya pasti akan lebih mudah karena beliau pemilik keputusan, ya beliau mau maju apa tidak," tandasnya. Survei Nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) terkini menunjukkan meski Prabowo Subianto dan Anies Baswedan tingkat kedikenalannya lebih tinggi dari nama nama lain yang masuk bursa calon presiden, namun keduanya memiliki tingkat disukainya yang lebih rendah dari kedikenalannya. Manajer Program SMRC Saidiman Ahmad menjelaskan banyak faktor mengapa orang memilih seorang calon menjadi presiden.

Faktor yang elementer, kata dia, adalah psikologi memilih yakni tahu dan suka dengan yang diketahuinya tersebut. Saidiman mengatakan tahu saja tidak cukup. Tahu kalau tidak suka, lanjut dia, tidak akan berujung pada memilih.

Oleh karena itu “suka” adalah indikasi lebih mendalam untuk menjelaskan mengapa orang memilih seorang calon. Hal tersebut disampaikannya dalam rilis survei bertajuk Partai Politik dan Calon Presiden: Sikap Pemilih Pasca Dua Tahun Pemilu 2019 pada Minggu (13/6/2021). "Pak Prabowo dikenal oleh hampir semua pemilih yakni 98% tapi kurang diikuti sikap suka pemilih. Hanya disukai 78%. Anies juga sudah dikenal luas oleh pemilih yaitu 83% tapi yang suka terhadap Anies lebih rendah daripada yang tahu yakni 75%," kata Saidiman.

Selain itu, kata dia, di antara nama nama yang beredar dan disebut sebut sebagai bakal calon presiden, yang paling disukai adalah sejumlah nama dengan tingkat kedisukaan yang tidak berbeda signifikan yaitu Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Ganjar Pranowo, dan Tri Rismaharini. Seperti Anies, kata dia, Sandiaga Uno juga sudah dikenal luas pemilih yakni 83% dan cenderung disukai oleh pemilih yang mengetahuinya yaitu 85%. Sebaliknya, kata dia, sejumlah nama tingkat kedikenalannya jauh lebih rendah tapi kedisukaannya jauh lebih tinggi yaitu Khofifah, di mana yang tahu 48% tapi yang suka dari yang tahu 81%.

Sedangkam Tri Rismaharini yang tahu baru 54%, dan yang suka dari yang tahu 84%. Ganjar Pranowo, kata dia, yang tahu baru 57% dan yang suka dari yang tahu 84%. Sedangkan Ridwan Kamil yang tahu 65% dan yang suka 85% dari yang tahu.

"Karena untuk dipilih, seorang yang dikenal harus disukai maka untuk sementara yang paling kompetitif untuk dikampanyekan adalah Ridwan Kamil, Sandiaga Uno, Ganjar Pranowo, Tri Rismaharini, dan Khofifah," kata dia. Kenaikan kedikenalan mereka, kata dia, potensial menaikan elektabilitas mereka juga karena punya resistensi (tidak suka) yang lebih kecil dibanding nama nama lain. Nama nama tersebut, kata Saidiman, kalau disosialisasakan secara intensif kemungkinan akan mendapat elektabilitas lebih baik dari pada nama nama lain.

"Mereka yang potensial tersebut bukan ketua atau elite inti partai. Ini tantangan bagi elite partai bahwa pemilih lebih menyukai tokoh tokoh di luar elite inti partai," kata Saidiman. Populasi survei tersebut adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum yakni mereka yang sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Peta elektabilitas di Lembaga Survei

Pilpres mendatang terbilang menarik. Selain tak lagi diikuti oleh Jokowi sang petahana dalam kontestasi 2024, semua calon yang berpeluang akan start di garis yang sama. Lantas bagaimana peta elektabilitas para tokoh yang digadang bakal maju di 2024? Lembaga Survei Nasional Parameter Politik Indonesia melakukan survei terkait lima tokoh nasional yang akan menjadi kandidat calon presiden (Capres) pada Pilpres 2024, mendatang.

Survei yang dilakukan pada 23 28 Mei 2021 diikuti 1.200 responden ini pun menanyakan kepada responden terkait lima tokoh. "Elektabilitas capres 5 nama terbesar apabila pemilihan presiden dilaksanakan saat ini dan Presiden Joko Widodo tidak boleh mencalonkan diri lagi, maka ada 5 nama tokoh utama yang paling berpeluang?," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno dalam hasil survei terkait peta politik menuju 2024 dan isu politik mutakhir secara virtual, Sabtu (5/6/2021). Adi pun mengatakan, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi tokoh paling populer saat ini dengan angka 22,3 persen.

Lalu, di posisi kedua ada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan 19,7 persen. Ketiga, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan 18,1 persen. Keempat, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono dengan 10,1 persen.

Dan kemudian di posisi lima ada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI Sandiaga Uno dengan angka 7,5 persen. CISA merilis hasil survei terbarunya mengenai kandidat presiden untuk agenda pilpres tahun 2024. Hasilnya, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan berada di posisi pertama dengan elektabilitas 19,2 persen.

Disusul posisi kedua ada nama Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono(AHY) dengan elektabilitas 15,51 persen. Selanjutnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mendapatkan 15,33 persen sedangkan Prabowo Subianto hanya mendapatkan 10,26 persen. Ada juga nama lain muncul dalam survei seperti Menteri BUMN, Erick Tohir dan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil serta Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Andika Perkasa di bursa kepemimpinan nasional di 2024 mendatang.

Menteri BUMN, Erick Tohir mampu mendulang 9,76 persen dan mengungguli Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang mendapatkan 7,55 persen serta Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Jenderal (TNI) Andika Perkasa sebesar 7,15 persen Survei tersebut dilaksanakan pada 27 Mei 1 Juni 2021, dengan wawancara langsung pada 1.600 responden di 34 provinsi yang dipilih dengan multi stage random sampling. Margin of error 2,85% dengan tingkat kepercayaan 95%. Direktur Eksekutif CISA, Herry Mendrofa mengatakan Anies, AHY, Ganjar, Prabowo Subianto dan Erick Thohir menempati lima besar elektabilitas tertinggi dari kandidat yang lainnya.

Dominasi Ganjar lanjut Herry juga masih sulit ditumbangkan di Jawa Tengah. Sedangkan Anies, Prabowo dan AHY memimpin di Jawa Barat. Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia Muslimin Tanja mengungkap hasil survei terkait calon presiden (capres) 2024. Hasilnya Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menempati urutan pertama dalam popularitas, akseptabilitas, dan elektabilitas.

Muslimin menyebut elektabilitas Prabowo Subianto yang saat ini menjabat sebagai Menteri Pertahanan mencapai 20,9 persen. "Seandainya dilakukan pemilihan presiden hari ini, siapa yang akan dipilih untuk menjadi presiden. Jadi, dari 22 nama yang kami uji, penilaian tertinggi itu ada di nama pak Prabowo. Ada 20,9 persen yang mengatakan akan memilih pak Prabowo jika pemilihan presiden digelar masa survei digelar 20 29 April 2021," ujar Muslimin, dalam rilis survei 'Menakar Peluang Capres 2024 dan Tantangan Poros Islam', Minggu (23/5/2021). Dia menjelaskan Prabowo Subianto mengalahkan sejumlah nama yang digadang gadang memiliki elektabilitas tinggi jelang Pilpres 2024.

Sebut saja nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan; Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo; Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno; Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil; hingga Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Muslimin menyebut Anies berada di posisi kedua dengan elektabilitas sebesar 15,4 persen. Setelahnya ada Ganjar (13,8 persen), Sandiaga (7,1 persen), serta Ridwan Kamil dan AHY (masing masing 4,9 persen).

Puspoll Indonesia juga mencoba simulasi dengan tiga nama teratas. Hasilnya tetap, Prabowo lebih unggul dari Anies dan Ganjar. Prabowo mendapatkan 27,6 persen, Anies Baswedan 25,5 persen, dan Ganjar Pranowo 22,0 persen.

"Dari simulasi 3 nama, ada kecenderungan Pak Prabowo relatif lebih stagnan atau lebih sedikit mendapat tiupan suara dari nama nama tokoh yang diuji tadi, tapi tiupan suara ke Anies Baswedan dan Ganjar," kata Muslimin. Lebih lanjut, dari kategori kepantasan menjadi capres, Prabowo juga mendapat perolehan tertinggi dengan 66,2 persen. Disusul Anies 60,1 persen; Sandiaga 50,8 persen; Ridwan Kamil 45,8 persen; dan Ganjar Pranowo 43,4 persen.

"Tingkat pengenalan masing masing tokoh kalau kita lihat di grafik itu pak Prabowo sudah mencapai 93 persen. Artinya, kalau dalam statistik atau survei ini sebenarnya angka yang sudah mentok; maksimal," kata Muslimin. Pengumpulan data survei Puspoll Indonesia dilakukan sejak 20 29 April 2019 melalui wawancara tatap muka dengan menggunakan kuesioner terstruktur di 34 provinsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *